Momen penuh cinta pagi ini:
Ketika ada seorang lelaki berjaket krem dengan motor Vario mengantarkan kekasihnya yang memakai rompi hitam bergambar kura-kura ke depan FKUI Salemba dan menurunkan di sana, kemudian si kekasih mencium khidmat punggung tangannya dan dibalas sang lelaki dengan mendaratkan tiga kecupan di ubun-ubunnya yang terbalut hijab, dan lantas sang lelaki melanjutkan perjalanan diiringi tatapan dan doa dari si kekasih. Semoga Alloh selalu menaungi mereka dengan cinta dan berkah.
NB: Belakangan, kutahu rompi hitam bergambar kura-kura itu adalah milik anggota klub motor yang - rasanya layak masuk program konservasi karena - hampir punah (hehe...). Mungkin itu milik sang lelaki. Mungkin...
cerita-cerita tak bermakna, ujar-ujar tak wajar, sajak-sajak tak bijak, lagu-lagu tak mutu, dan seni-seni tak berisi.
Showing posts with label rasa. Show all posts
Showing posts with label rasa. Show all posts
Wednesday, 23 October 2013
Wednesday, 24 April 2013
Cinta dan Milik
Seorang temen ngirimi aku gambar ini
... dan aku langsung menyanggah.
Tentu saja, mencintai haruslah memiliki. Agak sedikit absurd kalo mencintai tapi nggak memiliki. Dan percayalah, aku cukup pengalaman untuk masalah-masalah absurd gitu..
Itu sebuah keharusan. Perkara apa yang dimiliki, itu keleluasaan. Bisa jadi pemikirannya, ide-idenya, bagian dari pemberiannya, visinya, doa-doanya, canda tawanya, atau bahkan kenangan bersamanya.
Rasulullah, kita semua mencintainya. Bahkan Michael Hart -yang notabene bukan muslim- menempatkan nabi terakhir ini dalam peringkat satu orang yang paling berpengaruh di dunia. Kira-kira, apa yang mendasarinya mendudukkan sang Rasul pada posisi itu? Tentulah cinta. Tanpa cinta, yang tulus, mustahil Hart bisa begitu obyektif. Begitupun kita. Kita mencintainya, kita memilikinya.
Abu Abdullah Muhammad Ibnu Musa al Khawarizmi, tanpa sadar kita mencintainya. Kita sering menggunakan hasil pemikirannya. Siapa dia? Mungkin tak familiar. Tapi bagaimana dengan Aljabar? Ya, Ibnu Musa-lah yang menulis "Al-kitaabul muhtasar fi hisabul-jabar wal-muqabala", buku yang memuat dasar-dasar aljabar. Tak terasa, kita begitu mencintai Ibnu Musa. Laptop, PC, smartphone, banyak hal lain yang berfungsi menggunakan bahasa matematika, bahasa aljabar. Kita memilikinya. Kita mencintainya.
Sultan Hamengku Buwono IX, wakil presiden kedua republik ini, dicintai oleh banyak rakyatnya. Kira-kira apa yang dimiliki oleh rakyatnya dari sang sultan? Mungkin salah satunya cinta. Cinta yang berbalas cinta. Dulu, Universitas Gadjah Mada yang masyhur itu tidaklah berada di Bulaksumur seperti sekarang ini, melainkan di dalam lingkungan keraton. Sultan-lah yang menyediakan fasilitas pendidikan (yang amat mewah pada waktu itu) untuk para akademisi di tengah gegap gempita perang melawan penjajah. Maka, kini para rakyatnya, para civitas akademika UGM berutang kepada Sultan. Utang cinta. Cinta yang dimiliki.
Dan... mencintai mestilah memiliki.
Kita memiliki cinta itu.
Kita memiliki bagian dari yang kita cintai.
Kita memiliki doa-doa untuk yang kita cintai.
Kita mencintai. Kita memiliki.
... dan aku langsung menyanggah.
Tentu saja, mencintai haruslah memiliki. Agak sedikit absurd kalo mencintai tapi nggak memiliki. Dan percayalah, aku cukup pengalaman untuk masalah-masalah absurd gitu..
Mencintai haruslah memiliki.
Itu sebuah keharusan. Perkara apa yang dimiliki, itu keleluasaan. Bisa jadi pemikirannya, ide-idenya, bagian dari pemberiannya, visinya, doa-doanya, canda tawanya, atau bahkan kenangan bersamanya.
Rasulullah, kita semua mencintainya. Bahkan Michael Hart -yang notabene bukan muslim- menempatkan nabi terakhir ini dalam peringkat satu orang yang paling berpengaruh di dunia. Kira-kira, apa yang mendasarinya mendudukkan sang Rasul pada posisi itu? Tentulah cinta. Tanpa cinta, yang tulus, mustahil Hart bisa begitu obyektif. Begitupun kita. Kita mencintainya, kita memilikinya.
Abu Abdullah Muhammad Ibnu Musa al Khawarizmi, tanpa sadar kita mencintainya. Kita sering menggunakan hasil pemikirannya. Siapa dia? Mungkin tak familiar. Tapi bagaimana dengan Aljabar? Ya, Ibnu Musa-lah yang menulis "Al-kitaabul muhtasar fi hisabul-jabar wal-muqabala", buku yang memuat dasar-dasar aljabar. Tak terasa, kita begitu mencintai Ibnu Musa. Laptop, PC, smartphone, banyak hal lain yang berfungsi menggunakan bahasa matematika, bahasa aljabar. Kita memilikinya. Kita mencintainya.
Sultan Hamengku Buwono IX, wakil presiden kedua republik ini, dicintai oleh banyak rakyatnya. Kira-kira apa yang dimiliki oleh rakyatnya dari sang sultan? Mungkin salah satunya cinta. Cinta yang berbalas cinta. Dulu, Universitas Gadjah Mada yang masyhur itu tidaklah berada di Bulaksumur seperti sekarang ini, melainkan di dalam lingkungan keraton. Sultan-lah yang menyediakan fasilitas pendidikan (yang amat mewah pada waktu itu) untuk para akademisi di tengah gegap gempita perang melawan penjajah. Maka, kini para rakyatnya, para civitas akademika UGM berutang kepada Sultan. Utang cinta. Cinta yang dimiliki.
Dan... mencintai mestilah memiliki.
Kita memiliki cinta itu.
Kita memiliki bagian dari yang kita cintai.
Kita memiliki doa-doa untuk yang kita cintai.
Kita mencintai. Kita memiliki.
Saturday, 6 April 2013
Disleksia
Pernahkah putra putri Anda mengeluh kepada Anda bahwa ia susah membaca? Atau ia sering mengadu kepada Anda dia sering jadi bahan olok-olok di sekolah karena sering ditegur guru? Atau Anda cemas, di usia 9 atau 10 tahun sang anak masih belum bisa memakai baju dan sepatu sendiri? Ataukah Anda merasa jengkel tulisan sang anak sering terbolak-balik meski terus diajari? Ada apa dengan anak yang seperti ini? Apakah ia bodoh?
Jangan terburu membuat kesimpulan, apalagi memvonis bodoh.
Ada banyak hal penyebab yang mengakibatkan si kecil seperti itu. Salah satu
penyebabnya, mungkin saja ia terkena sindrom disleksia.
Disleksia (bahasa Yunani; dys-: "ketidakmampuan" dan lexis: "huruf" ) adalah gangguan yang terjadi pada
kemampuan otak mengenali dan memproses simbol-simbol tertentu yang
mengakibatkan terjadinya gangguan membaca dan menulis seorang anak. Federeasi Neurologi Dunia mendefinisikan disleksia
sebagai "suatu kelainan yang teramasuk didalamnya kesulitan untuk
belajar membaca walaupun dengan adanya instuksi umum, kecerdasan yang memadai
dan interaksi kesempatan sosial budaya."
Gejala umum yang biasanya ada pada penderita disleksia
antara lain adalah kesulitan membaca kalimat yang agak panjang; kesulitan
menulis dan membedakan huruf yang mirip, seperti ‘b’ dan ‘d’; kesulitan
mengikuti instruksi berurutan dan kontinyu, misalnya “sehabis pulang sekolah,
lekas ganti baju, cuci tangan, makan siang, lalu tidur siang ya..”; kesulitan
menakar jarak dan kecepatan; dan mudah tersinggung - pada akhirnya akan depresi
(akibat sering mendapat olok-olok) dan bisa lebih fatal.
Bisakah disleksia disembuhkan? Saya sendiri belum pernah
menemukan berita atau artikel yang menyebutkan bahwa disleksia bisa
disembuhkan, karena menurut beberapa ahli, disleksia bukanlah penyakit. Namun, penderita
disleksia bisa memperbaiki kekurangan mereka dengan melakukan pelatihan dengan
metode tertentu dan niat kuat. Metode perawatan disleksia biasanya berbeda satu
dengan lain, melihat kondisi penderita. Selain itu, perawatan sebaiknya bersifat
privat dan intensif.
Berapa banyak penderita disleksia? Penderita sindrom ini berkisar 5-10 persen penduduk dunia,
meski belum pernah ada data resmi yang mencatat itu karena disleksia
susah-susah gampang untuk dikenali. Apakah penderita disleksia adalah seorang
yang bodoh? Biasanya, bukan. Kecerdasan mereka normal. Bahkan ada beberapa yang
di atas rata-rata. Meskipun mereka mempunyai kekurangan dalam membaca menulis,
beberapa penderita disleksia dikaruniai anugerah kemampuan artistik, sastrawi,
dan spasial yang tinggi. Beberapa penderita disleksia yang menjadi tokoh dunia
adalah Leonardo da Vinci, Thomas Alva Edison,
Albert Einstein, Agatha Cristie, Winston Churchill, Whoopi Goldberg, Walt
Disney, Magic Johnson, dan Tom Cruise.
Saat ini, kesadaran atas disleksia sedang berkembang di dunia luas,
mengingat penderita disleksia yang tidak mendapat perhatian perawatan yang
benar biasanya akan mengalami trauma psikis dan
ketidakpercayadirian. Beberapa kampanye dan fakta tentang disleksia bisa
didapat di www.dyslexia.org.uk. Untuk penggemar film, setidaknya ada tiga film
yang bisa menjadi gambaran tentang disleksia, “Taree Zameen Par” dari ranah
Bollywood dan “Juli di Bulan Juni” serta “Ikhsan, Mama I Love You” karya anak
negeri.
Thursday, 4 April 2013
Kau
Seminggu ini lagi seneng lagunya teh Nicky. Judulnya Kau. Iya, Kau.
Karena kau kau kau egois...
Mengapa kau kau kau terlupa romantis...
Yeaaaah... :D
Padamu Diriku Tak Pernah Coba Memahami Hatimu
Padamu Diriku Terlalu Membuat Gelisah Selalu
Padamu Diriku Senantiasa Mengekang Kebebasanmu
Padamu Diriku Tak Ikhlas Bernaung Dalam Percintaan
Engkau Terbelenggu
Padaku Dirimu Tak Pernah Menilai Kasih Dan Kasih Sayangku
Padaku Dirimu Sengaja Membuat Kuresah Melulu
Padaku Dirimu Terlupa Berkata Kucinta Padamu
Padaku Dirimu Terlalu Menilai Kesilapanku
Karena Kau Kau Kau Terlalu Egois
Mengapa Kau Kau Kau Terlupa Romantis
Terlalu Kau Kau Kau Menyayangi Aku
Sehingga Kau Kau Kau Menjadi Cemburu
Di Kala Aku Masih Mencintaimu
Aku Masih Setia Padamu
Usah Engkau Gamit Jemariku Untuk Cinta Suci
Usah Biarkan Kerut Mendekati Di Jiwamu
Karena kau kau kau egois...
Mengapa kau kau kau terlupa romantis...
Yeaaaah... :D
Padamu Diriku Tak Pernah Coba Memahami Hatimu
Padamu Diriku Terlalu Membuat Gelisah Selalu
Padamu Diriku Senantiasa Mengekang Kebebasanmu
Padamu Diriku Tak Ikhlas Bernaung Dalam Percintaan
Engkau Terbelenggu
Padaku Dirimu Tak Pernah Menilai Kasih Dan Kasih Sayangku
Padaku Dirimu Sengaja Membuat Kuresah Melulu
Padaku Dirimu Terlupa Berkata Kucinta Padamu
Padaku Dirimu Terlalu Menilai Kesilapanku
Karena Kau Kau Kau Terlalu Egois
Mengapa Kau Kau Kau Terlupa Romantis
Terlalu Kau Kau Kau Menyayangi Aku
Sehingga Kau Kau Kau Menjadi Cemburu
Di Kala Aku Masih Mencintaimu
Aku Masih Setia Padamu
Usah Engkau Gamit Jemariku Untuk Cinta Suci
Usah Biarkan Kerut Mendekati Di Jiwamu
Monday, 1 April 2013
Nyanyi Ngaji, Ngaji Nyanyi
Dulu, waktu masih kecil, sering nyanyi lagu ini waktu ngaji. Alhasil, sampe sekarang, waktu hampir mau punya anak kecil, masih nget aja lagunya. :D
Yuk nyanyi..
Siji loro telu astane sedeku,
mirengake Pak Guru,
Menowo didangu,
Papat nuli limo dik,
Lenggahe sing toto,
Ojo pada sembrono mundhak ora bisa;
Bocah Cilik-cilik,
Jejer tarik-tarik,
Sandhangane resik,
tumindak-e becik,
Alloh iku siji tanpo konco,
tanpo garwo lan ora peputro,
tanpo bopo lan ibu wes cetho,
yoiku gusti Alloh kang nyoto
Islam agamaku,
Allah pengeranku,
Muhammad nabiku,
Al-Qur’an kitabku….
Aku biso nulis,
Arab Jowo wasis,
ngaji iyo uwes,
nanging durung titis...
Alloh iku siji tanpo konco,
tanpo garwo lan ora peputro,
tanpo bopo lan ibu wes cetho,
yoiku gusti Alloh kang nyoto
Friday, 22 March 2013
Pindahan
Alhamdulillah, setelah beberapa lama pingin punya 'rumah' sendiri, akhirnya sekarang kesampaian di alamat bungsalman.com. Mudah-mudahan betah. Ya tuan rumahnya, ya tuan tamunya. :D
Walaupun isinya masih seadanya dan sama kaya yang lama, yang punya 'rumah' berharap ini menjadi inspirasi barunya buat berkreasi dan berproses untuk lebih baik lagi.
So, selamat berkunjung (lagi) di sini, enjoy the show! :)
Oh iya, untuk yang minta ada acara syukuran, monggo..
Wednesday, 18 April 2012
Tentang Hidup #13
Sayangnya ada beberapa hal yang belum bisa kuungkap.
Terlalu mahal, terlalu menyedihkan, dan terlalu riskan untuk ditabur sekarang.
Bagaimanapun, meski itu adalah anugerah, tidak semua dari kita bisa menerimanya dengan baik.
Aku adalah orang yang akan menanggung itu seutuhnya kelak.
Hanya kepada orang tertentu, hal itu bisa kubagi.
Mudah-mudahan, engkau adalah orang itu.
Terlalu mahal, terlalu menyedihkan, dan terlalu riskan untuk ditabur sekarang.
Bagaimanapun, meski itu adalah anugerah, tidak semua dari kita bisa menerimanya dengan baik.
Aku adalah orang yang akan menanggung itu seutuhnya kelak.
Hanya kepada orang tertentu, hal itu bisa kubagi.
Mudah-mudahan, engkau adalah orang itu.
Tuesday, 10 January 2012
Akting
Ini tulisan saya ketika masih di kantor menunggu bos yang tak kunjung pulang. Ketika lelah menyapa, kedua pasang kelopak mata merindu bertemu, dan batere hape telah tersiksa dalam sakaratul maut.
Saya termasuk orang yang kurang suka kepura-puraan. Oke, dalam kata lain, akting. Pernah liat Sister Act? Judulnya saja sudah keliatan palsunya. Jadi saya sudah nebak isi filemnya apa. Kepalsuan. Terus, akting. Acting. Memalsukan. Memura-murakan.
Pernah baca novelnya Hamsad Rangkuti yang judulnya Panggilan Rasul? Itu novel terjujur yang pernah saya baca. Jauh dari akting. Pesan moral yang saya tangkap, mungkin akan sama dengan apa yang juga anda dapat. Meski banyak yang tidak. Tapi tak apa. Saya suka kita berbeda. Karena bibit kita tak sama. Untuk apa menyamakan yang sudah beda?
Emansipasi wanita. Penyetaraan hak? Oh, Tuhan.. Kenapa sih harus ada? Bukankah dua jenis spesies Homo Sapiens itu sudah diberikan hak yang berbeda? Salah satu lebih istimewa dari lainnya. Tiga dibanding satu. Kenapa yang tiga harus disetarakan dengan yang satu? Itu namanya degradasi!
Saya terlihat menggerundel? Memang. Saya sebal dengan ucapan orang-orang yang menuntut penyetaraan itu. Kenapa wanita harus sama dengan lelaki? Kenapa lelaki harus sama dengan wanita? Gimana kalo nanti semua wanita bercelana panjang, duduk ngangkang, berotot kekar, dan pria bergincu, beranting, dan kemayu? Mau?
“Allah melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki.” (HR. Bukhari)
23:27. Dan saya masih belum pulang. Kerja apa saya ini sebenarnya? -_______________-"
Saya termasuk orang yang kurang suka kepura-puraan. Oke, dalam kata lain, akting. Pernah liat Sister Act? Judulnya saja sudah keliatan palsunya. Jadi saya sudah nebak isi filemnya apa. Kepalsuan. Terus, akting. Acting. Memalsukan. Memura-murakan.
Pernah baca novelnya Hamsad Rangkuti yang judulnya Panggilan Rasul? Itu novel terjujur yang pernah saya baca. Jauh dari akting. Pesan moral yang saya tangkap, mungkin akan sama dengan apa yang juga anda dapat. Meski banyak yang tidak. Tapi tak apa. Saya suka kita berbeda. Karena bibit kita tak sama. Untuk apa menyamakan yang sudah beda?
Emansipasi wanita. Penyetaraan hak? Oh, Tuhan.. Kenapa sih harus ada? Bukankah dua jenis spesies Homo Sapiens itu sudah diberikan hak yang berbeda? Salah satu lebih istimewa dari lainnya. Tiga dibanding satu. Kenapa yang tiga harus disetarakan dengan yang satu? Itu namanya degradasi!
Saya terlihat menggerundel? Memang. Saya sebal dengan ucapan orang-orang yang menuntut penyetaraan itu. Kenapa wanita harus sama dengan lelaki? Kenapa lelaki harus sama dengan wanita? Gimana kalo nanti semua wanita bercelana panjang, duduk ngangkang, berotot kekar, dan pria bergincu, beranting, dan kemayu? Mau?
“Allah melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki.” (HR. Bukhari)
23:27. Dan saya masih belum pulang. Kerja apa saya ini sebenarnya? -_______________-"
Thursday, 29 December 2011
Kuno dan Sederhana
Pernah dengar bahwa sesuatu yang kuno itu adalah sesuatu yang sederhana? Karena kesederhanaannya, maka ia akan lebih mudah, dalam pembuatan, perawatan, dan pemakaian.
Semalam, beberapa teman ngomong ke saya (hampir barengan) mengeluhkan lewat chat kalo BBM, whatsapp, bahkan HP mereka yang sudah smart itu menjadi lelet pada saat yang hampir bersamaan. Sama leletnya dengan otak kepala saya yang berlomba kebut-kebutan dengan ingus yang pengen lari dari lubang idung. Saya lagi flu.
Sesederhana pemikiran saja, sesederhana ini jawaban saya: Udah, ganti hape item putih aja. Balik lagi pake sms. Dijamin cepet nyampe.
Apaan sih kamu?
Hape jadul? Norak amat?
Yah, ga ngerti gaya lu..
Ntar gue jadi ga bisa BBMan lagi..
Yang ada gue diketawain ntar..
Sms lagi, pulsa lagi..
Reaksi mereka macem-macem. Tapi begitu saya tanya: emang kamu pake BB buat apa sih? 5/6 jawaban pertama adalah.. buat BBMan / chatting.
Oh, God. Hape sepintar itu cuma buat chatting? Saya tanya lagi, pernah nggak make BB buat ngerjain sesuatu selain chatting?
Pernah. Browsing.
Pernah. Foto-foto.
Pernah. Fesbukan.
Pernah. Twitteran
Pernah pake buat ngerjain kerjaan kantor? Kirim email, gitu?
Satu orang jawab. Pernah
Lima lagi jawab. Enggak.
Tiga di antara lima jawab: Gue kan pake paket ... (well, aku lupa-lupa inget apa nama paketnya itu, maklum lagi flu), jadi cuma bisa buat BBMan ama chatting doang..
Nggak sengaja, saya jadi survey kecil-kecilan. Ternyata gini toh..
Baik, teman. Saya sampaikan kepada mereka sembari guyon. Pakelah sesuatu sesuai potensi dan kemampuannya. Kalo kamu punya BB, tapi cuma buat chat dan medsos, itu namanya pelecehan. BB itu kan punya banyak fitur lebih keren. Dan BBM itu tadinya cuma fitur tambahan. Tapi entah kenapa sekarang malah jadi fitur utama, mengalahkan fitur-fitur lainnya.
Yeee, BB-BB gue, duit-duit gue. Terserah gue dong..
Iye, emang terserah elu. Itu emang hakmu sebagai empu BB itu. Tapi pernah nggak kepikiran buat make BB selain buat BBMan dan chatting? Memanfaatkan buat sesuatu yang lebih produktif, gitu? Daripada ngobrol doang? Oke, kita masyarakat Indonesia emang makhluk komunal. Dimana-mana ngobrol udah biasa, bahkan kalo bisa, ngimpi pun ngimpi ngobrol dengan temen kita. Tapi jujur, rumpi abis nggak sih kalo tiap pagi, siang, sore, malem, pagi lagi ngobroool melulu? Apalagi ngetik dan mantengin layar di BB. Ga pegel tuh jari ama mata? Sampe jadi egois dan nggak peduli ama orang di sekitar. Ibunya Putri Soehendro (penyiar i-radio) yang mungkin udah cukup sepuh, kabarnya pernah ketabrak sama ABG di gereja, gara-gara si ABG jalan sambil BBMan. Bayangin coba. Di gereja, BBMan, terus nabrak ibu-ibu? Oh my...
Ah, elu kan ga punya BB. Ya jadi kaga bisa ngerasain rasanya BBMan.
Yes, definelty. I dont have any. Tapi dengan hape yang cuma item putih, saya cukup nyaman. Sejauh ini, saya cuma perlu membuat dan menerima panggilan telepon dan terima dan kirim SMS di hape itu. Chatting? Browsing? Saya pake PC. Motret? Saya pake kamera.
Saya bukan seorang yang anti teknologi. Saya pendukungnya malah. Tapi yang saya tentang dan kecewakan adalah penyia-nyiaan teknologi. Teknologi seyogianya membuat kita lebih pandai dan lebih produktif. Dan BB? Itu hape yang pintar dan berhak diperlakukan lebih dari sekedar chatting.
Forgive me for the offense. Saya, ah, andai putri saya punya kecerdasan kelas lima, saya akan menyesal menempatkan dia di kelas dua.
PS: Lebih baik punya stupid phone yang dipakai dengan smart, ketimbang smartphone yang dipakai dengan stupid.
Catatan: Sebetulnya nggak ada hubungan antara BBM / chat lambat dengan ganti hape trus pake SMS. Cepet atau nyampenya pesan tergantung sama sinyal dan kualitasnya. Kirim SMS pake hape itemputih pun kalo nggak ada sinyal, ya tetep aja nggak nyampe SMS itu.. XD
Semalam, beberapa teman ngomong ke saya (hampir barengan) mengeluhkan lewat chat kalo BBM, whatsapp, bahkan HP mereka yang sudah smart itu menjadi lelet pada saat yang hampir bersamaan. Sama leletnya dengan otak kepala saya yang berlomba kebut-kebutan dengan ingus yang pengen lari dari lubang idung. Saya lagi flu.
Sesederhana pemikiran saja, sesederhana ini jawaban saya: Udah, ganti hape item putih aja. Balik lagi pake sms. Dijamin cepet nyampe.
Apaan sih kamu?
Hape jadul? Norak amat?
Yah, ga ngerti gaya lu..
Ntar gue jadi ga bisa BBMan lagi..
Yang ada gue diketawain ntar..
Sms lagi, pulsa lagi..
Reaksi mereka macem-macem. Tapi begitu saya tanya: emang kamu pake BB buat apa sih? 5/6 jawaban pertama adalah.. buat BBMan / chatting.
Oh, God. Hape sepintar itu cuma buat chatting? Saya tanya lagi, pernah nggak make BB buat ngerjain sesuatu selain chatting?
Pernah. Browsing.
Pernah. Foto-foto.
Pernah. Fesbukan.
Pernah. Twitteran
Pernah pake buat ngerjain kerjaan kantor? Kirim email, gitu?
Satu orang jawab. Pernah
Lima lagi jawab. Enggak.
Tiga di antara lima jawab: Gue kan pake paket ... (well, aku lupa-lupa inget apa nama paketnya itu, maklum lagi flu), jadi cuma bisa buat BBMan ama chatting doang..
Nggak sengaja, saya jadi survey kecil-kecilan. Ternyata gini toh..
Baik, teman. Saya sampaikan kepada mereka sembari guyon. Pakelah sesuatu sesuai potensi dan kemampuannya. Kalo kamu punya BB, tapi cuma buat chat dan medsos, itu namanya pelecehan. BB itu kan punya banyak fitur lebih keren. Dan BBM itu tadinya cuma fitur tambahan. Tapi entah kenapa sekarang malah jadi fitur utama, mengalahkan fitur-fitur lainnya.
Yeee, BB-BB gue, duit-duit gue. Terserah gue dong..
Iye, emang terserah elu. Itu emang hakmu sebagai empu BB itu. Tapi pernah nggak kepikiran buat make BB selain buat BBMan dan chatting? Memanfaatkan buat sesuatu yang lebih produktif, gitu? Daripada ngobrol doang? Oke, kita masyarakat Indonesia emang makhluk komunal. Dimana-mana ngobrol udah biasa, bahkan kalo bisa, ngimpi pun ngimpi ngobrol dengan temen kita. Tapi jujur, rumpi abis nggak sih kalo tiap pagi, siang, sore, malem, pagi lagi ngobroool melulu? Apalagi ngetik dan mantengin layar di BB. Ga pegel tuh jari ama mata? Sampe jadi egois dan nggak peduli ama orang di sekitar. Ibunya Putri Soehendro (penyiar i-radio) yang mungkin udah cukup sepuh, kabarnya pernah ketabrak sama ABG di gereja, gara-gara si ABG jalan sambil BBMan. Bayangin coba. Di gereja, BBMan, terus nabrak ibu-ibu? Oh my...
Ah, elu kan ga punya BB. Ya jadi kaga bisa ngerasain rasanya BBMan.
Yes, definelty. I dont have any. Tapi dengan hape yang cuma item putih, saya cukup nyaman. Sejauh ini, saya cuma perlu membuat dan menerima panggilan telepon dan terima dan kirim SMS di hape itu. Chatting? Browsing? Saya pake PC. Motret? Saya pake kamera.
Saya bukan seorang yang anti teknologi. Saya pendukungnya malah. Tapi yang saya tentang dan kecewakan adalah penyia-nyiaan teknologi. Teknologi seyogianya membuat kita lebih pandai dan lebih produktif. Dan BB? Itu hape yang pintar dan berhak diperlakukan lebih dari sekedar chatting.
Forgive me for the offense. Saya, ah, andai putri saya punya kecerdasan kelas lima, saya akan menyesal menempatkan dia di kelas dua.
PS: Lebih baik punya stupid phone yang dipakai dengan smart, ketimbang smartphone yang dipakai dengan stupid.
Catatan: Sebetulnya nggak ada hubungan antara BBM / chat lambat dengan ganti hape trus pake SMS. Cepet atau nyampenya pesan tergantung sama sinyal dan kualitasnya. Kirim SMS pake hape itemputih pun kalo nggak ada sinyal, ya tetep aja nggak nyampe SMS itu.. XD
Monday, 12 December 2011
Satu Sisi #3
Aku suka dengan sesuatu yang tidak biasa.
Aku suka dengan sesuatu yang unik.
Menjadi lain, aneh, dan membuat orang lain "mengernyit".
Di sisi lain, aku tak suka publisitas.
Aku lebih suka menjadi seseorang yang tak terlihat.
Invisible, di belakang layar, dan hilang tak berkesan.
Kemudian muncul lagi dengan kejutan.
Aku tak suka berada dalam arus.
Aku lebih suka berada di sisi lain.
Ketika orang-orang berlomba punya BB,
aku cukup dengan hape item putih.
Ketika orang-orang pergi ke konser artis terkenal,
aku mending pulang kampung ketemu emak bapak.
Meski demikian, aku tak suka kejutan.
Aku tak suka itu, demi apapun.
Aku lebih suka keteraturan, kejelasan, dan keterencanaan.
Sungguh.
Aku tak suka ketukan pagi buta di pintu karena orang mau memberikan kejutan.
Aku tak suka seseorang datang kepadaku tanpa pemberitahuan.
Aku tak suka seseorang pergi dariku tanpa pesan, terus menghilang.
Sungguh.
Demi apapun aku tak suka. Tapi aku tetap memahami dan menghargainya.
Orang biasa, akan mengatakan aku aneh.
Orang aneh, akan mengatakan aku biasa.
Aku suka dengan sesuatu yang unik.
Menjadi lain, aneh, dan membuat orang lain "mengernyit".
Di sisi lain, aku tak suka publisitas.
Aku lebih suka menjadi seseorang yang tak terlihat.
Invisible, di belakang layar, dan hilang tak berkesan.
Kemudian muncul lagi dengan kejutan.
Aku tak suka berada dalam arus.
Aku lebih suka berada di sisi lain.
Ketika orang-orang berlomba punya BB,
aku cukup dengan hape item putih.
Ketika orang-orang pergi ke konser artis terkenal,
aku mending pulang kampung ketemu emak bapak.
Meski demikian, aku tak suka kejutan.
Aku tak suka itu, demi apapun.
Aku lebih suka keteraturan, kejelasan, dan keterencanaan.
Sungguh.
Aku tak suka ketukan pagi buta di pintu karena orang mau memberikan kejutan.
Aku tak suka seseorang datang kepadaku tanpa pemberitahuan.
Aku tak suka seseorang pergi dariku tanpa pesan, terus menghilang.
Sungguh.
Demi apapun aku tak suka. Tapi aku tetap memahami dan menghargainya.
Orang biasa, akan mengatakan aku aneh.
Orang aneh, akan mengatakan aku biasa.
Monday, 24 October 2011
Pesan dari Teman
Maaf, sedang tidak mau menulis. Silakan tinggalkan komentar Anda setelah tanda titik.
Saturday, 15 October 2011
Satu Sisi #2
Lelah itu menyapa. Hangat. Kubalas dengan senyuman..
Hai.
Lama kami bercengkerama. Ia tampak akrab dan dekat.
Maklum, beberapa hari terakhir ia sering berjumpa denganku.
Aku bercerita tentang apa-apa saja yang kulakukan hari ini.
***
Ah, gitu aja dipamerin, ujarnya menimpali ceritaku.
Biasa aja dong. Tuh, di luar sana. Ada banyak yang berkarya lebih banyak dari kamu, bungs.
Aku diam sebentar.
Kulontarkan protes bahwa aku tak pamer.
Aku sungguh ingin bercerita dan itu benar adanya!
Dia terkekeh.
Bungs, kamu tau tidak? Mereka itu berkarya dalam diam. Mereka tak ambil pusing untuk publikasi. Mereka hanya melakukan itu tanpa memikirkan apakah kerjaan mereka dilihat orang atau tidak. Itu yang membuat mereka lebih baik daripada kamu.
Kenapa mereka melakukan itu, banyak hal itu, tanpa peduli orang lain tau? Toh, tidak ada salahnya orang lain tau. Orang lain jadi bisa menghargai kerjaan mereka. Orang lain jadi bisa kasih tau ke orang lain tentang baiknya kerjaan mereka. Selain itu, orang lain juga jadi bisa bantu jika mereka mengalami kesusahan. Ya kan? Kenapa?
Karena mereka melakukan itu dengan cinta, bungs. Mereka adalah amatir di bidangnya. Sungguh sungguh amatir.
Tunggu! Amatir katamu? Mengapa amatir itu lebih baik daripadaku?
Ya, mereka amatir. Mereka tidak profesional, yang mengerjakan sesuatu karena profesi dan untuk uang. Mereka bukan profesional, yang mengejar materi keduniawian. Mereka adalah amatir, yang melakukan pekerjaan itu atas dasar cinta. Mereka suka melakukan pekerjaan itu meski kebanyakan orang tak suka karena tak ada uangnya. Merekalah para pekerja terbaik di dunia ini.
Bullshit. Mana ada orang seperti itu di dunia ini. Kita ini butuh materi untuk hidup. Dari mana kita dapat kalo bukan dari kerja?
Betul. Tapi ingatkah kau siapa yang memberi materi di dunia ini? Dialah Yang Maha Mengatur dan Memenuhi kebutuhan setiap mahkluknya. Jika engkau percaya, mengimani sepenuh hati, dan mencintai-Nya, apalagi yang engkau khawatirkan tentang kehidupan di dunia ini? Bungs, jika engkau mengejar materi, takkan ada cukupnya. Engkau akan terus mengejar, mengejar, dan mengejar, meski engkau lelah dan tubuhnya mengeluh memohon untuk engkau berhenti.
Tapi, bukankah itu lumrah. Kita bekerja, kita capai, dan sekarang, aku bisa berbincang denganmu. Bukankah begitu seharusnya?
Ya, kalau kau bekerja untuk materi. Engkau akan seperti ini. Capek, lelah, dan memikirkan apa-apa yang sudah kau lakukan dan materi yang sudah kau peroleh. Berbeda jika kau tak memikirkan materi ketika kau bekerja. Lelahmu akan berbeda dan engkau takkan sempat punya waktu untuk berbincang denganku, karena aku takkan hadir di pikiranmu. Cobalah...
***
Apakah aku seorang amatir?
Hai.
Lama kami bercengkerama. Ia tampak akrab dan dekat.
Maklum, beberapa hari terakhir ia sering berjumpa denganku.
Aku bercerita tentang apa-apa saja yang kulakukan hari ini.
***
Ah, gitu aja dipamerin, ujarnya menimpali ceritaku.
Biasa aja dong. Tuh, di luar sana. Ada banyak yang berkarya lebih banyak dari kamu, bungs.
Aku diam sebentar.
Kulontarkan protes bahwa aku tak pamer.
Aku sungguh ingin bercerita dan itu benar adanya!
Dia terkekeh.
Bungs, kamu tau tidak? Mereka itu berkarya dalam diam. Mereka tak ambil pusing untuk publikasi. Mereka hanya melakukan itu tanpa memikirkan apakah kerjaan mereka dilihat orang atau tidak. Itu yang membuat mereka lebih baik daripada kamu.
Kenapa mereka melakukan itu, banyak hal itu, tanpa peduli orang lain tau? Toh, tidak ada salahnya orang lain tau. Orang lain jadi bisa menghargai kerjaan mereka. Orang lain jadi bisa kasih tau ke orang lain tentang baiknya kerjaan mereka. Selain itu, orang lain juga jadi bisa bantu jika mereka mengalami kesusahan. Ya kan? Kenapa?
Karena mereka melakukan itu dengan cinta, bungs. Mereka adalah amatir di bidangnya. Sungguh sungguh amatir.
Tunggu! Amatir katamu? Mengapa amatir itu lebih baik daripadaku?
Ya, mereka amatir. Mereka tidak profesional, yang mengerjakan sesuatu karena profesi dan untuk uang. Mereka bukan profesional, yang mengejar materi keduniawian. Mereka adalah amatir, yang melakukan pekerjaan itu atas dasar cinta. Mereka suka melakukan pekerjaan itu meski kebanyakan orang tak suka karena tak ada uangnya. Merekalah para pekerja terbaik di dunia ini.
Bullshit. Mana ada orang seperti itu di dunia ini. Kita ini butuh materi untuk hidup. Dari mana kita dapat kalo bukan dari kerja?
Betul. Tapi ingatkah kau siapa yang memberi materi di dunia ini? Dialah Yang Maha Mengatur dan Memenuhi kebutuhan setiap mahkluknya. Jika engkau percaya, mengimani sepenuh hati, dan mencintai-Nya, apalagi yang engkau khawatirkan tentang kehidupan di dunia ini? Bungs, jika engkau mengejar materi, takkan ada cukupnya. Engkau akan terus mengejar, mengejar, dan mengejar, meski engkau lelah dan tubuhnya mengeluh memohon untuk engkau berhenti.
Tapi, bukankah itu lumrah. Kita bekerja, kita capai, dan sekarang, aku bisa berbincang denganmu. Bukankah begitu seharusnya?
Ya, kalau kau bekerja untuk materi. Engkau akan seperti ini. Capek, lelah, dan memikirkan apa-apa yang sudah kau lakukan dan materi yang sudah kau peroleh. Berbeda jika kau tak memikirkan materi ketika kau bekerja. Lelahmu akan berbeda dan engkau takkan sempat punya waktu untuk berbincang denganku, karena aku takkan hadir di pikiranmu. Cobalah...
***
Apakah aku seorang amatir?
Saturday, 8 October 2011
Have a Nice Trip, Great Man..
Wajahmu adalah satu yang kukenal.
Generasi patrilineal sebelum ayahku yang mulai bisa kuhafal.
Kisah hidupmu tak banyak kudapat.
Hanya bisa kusimak dari sesepuh dengan khidmat.
Mereka berkata engkau adalah orang yang sangat berarti.
Perjuanganmu untuk agama dan bangsa nan tak kenal henti.
Engkau imam bagi mereka.
Satu tokoh yang juga jadi pemuka.
Panutan bagi mereka yang perlu tuntunan.
Pengampu bagi mereka yang butuh perlindungan.
Engkau adalah juga kontroversi.
Yang teguh dengan prinsip dan keyakinan diri.
Namun engkau buktikan kepada kami,
Itu semua kau lakukan dengan hati.
Mungkin kami tak bisa menjadi harapanmu.
Termasuk aku, cucu lelaki pertamamu.
Tapi kami semua mencintaimu..
Kemarin, adalah bukti betapa engkau dicintai.
Rumahmu didatangi orang sehari semalam tanpa henti.
Membuktikan kepadaku bahwa engkau adalah juga milik mereka dengan sah.
Bukan hanya kami, yang mewarisimu dalam daging dan darah.
Beberapa tokoh pemerintahan, belasan teman sejawat, puluhan makmum, dan tak terhitung orang-orang yang meluangkan waktu memberikan salam mereka untukmu.
Aku dan mereka mungkin tak menangis, tapi kami tau batin kami tersedu haru.
Maafkan aku yang tak sempat menjengukmu di Ramadhan taun lalu. Maafkan aku yang tak bisa menjadi generasi idamanmu. Maafkan aku untuk segala sikapku yang kurang berkenan terhadapmu.
Selamat jalan, mbah Dalari. Semoga engkau tenang di sisi-Nya, semua amalmu diterima, dan semua dosamu diampuni.
Semoga kami menjadi anak-cucumu yang mampu menjadi tambahan amalan bagimu..
Kami semua mencintamu. Juga kehilanganmu.
Innalillahi wa inna ilaihi roojiuun.
Generasi patrilineal sebelum ayahku yang mulai bisa kuhafal.
Kisah hidupmu tak banyak kudapat.
Hanya bisa kusimak dari sesepuh dengan khidmat.
Mereka berkata engkau adalah orang yang sangat berarti.
Perjuanganmu untuk agama dan bangsa nan tak kenal henti.
Engkau imam bagi mereka.
Satu tokoh yang juga jadi pemuka.
Panutan bagi mereka yang perlu tuntunan.
Pengampu bagi mereka yang butuh perlindungan.
Engkau adalah juga kontroversi.
Yang teguh dengan prinsip dan keyakinan diri.
Namun engkau buktikan kepada kami,
Itu semua kau lakukan dengan hati.
Mungkin kami tak bisa menjadi harapanmu.
Termasuk aku, cucu lelaki pertamamu.
Tapi kami semua mencintaimu..
Kemarin, adalah bukti betapa engkau dicintai.
Rumahmu didatangi orang sehari semalam tanpa henti.
Membuktikan kepadaku bahwa engkau adalah juga milik mereka dengan sah.
Bukan hanya kami, yang mewarisimu dalam daging dan darah.
Beberapa tokoh pemerintahan, belasan teman sejawat, puluhan makmum, dan tak terhitung orang-orang yang meluangkan waktu memberikan salam mereka untukmu.
Aku dan mereka mungkin tak menangis, tapi kami tau batin kami tersedu haru.
Maafkan aku yang tak sempat menjengukmu di Ramadhan taun lalu. Maafkan aku yang tak bisa menjadi generasi idamanmu. Maafkan aku untuk segala sikapku yang kurang berkenan terhadapmu.
Selamat jalan, mbah Dalari. Semoga engkau tenang di sisi-Nya, semua amalmu diterima, dan semua dosamu diampuni.
Semoga kami menjadi anak-cucumu yang mampu menjadi tambahan amalan bagimu..
Kami semua mencintamu. Juga kehilanganmu.
Innalillahi wa inna ilaihi roojiuun.
Published with Blogger-droid v1.7.4
Tuesday, 27 September 2011
Satu sisi #1
I dont know...
Belakangan ini hidup rasanya terlalu datar.
Ini lagi. Itu lagi.
Variasinya mungkin cuma berita duka dari seorang teman lama yang kehilangan suaminya dalam kecelakaan. Dia sendiri sekarang sedang dalam ruang ICU. Sebenarnya bukan temanku yang kecelakaan yang mengabarkan, tapi teman si temanku yang kecelakaan itu tadi, yang juga temenku. Ribet? Ya itulah. Temanku pokoknya.
Hari-hari isinya rapat, rapat, dan rapat. Pagi, agak siang, siang. Sorenya enggak. Kue, kue, dan kue. Alhamdulillah.
Sampe kosan, tidur. Ngimpi, sering nggak jelas ngimpi apa. Tau-tau bangun. Laper, haus, gerah. Minum seteguk dua teguk. Bengong bentar. Ke kamar mandi. Cukup, sampe sini aja.
Yah, apapun itu, tetap aja aku begini. Wage-slave yang berada dalam kasta terendah piramida kaum Yahudi (menurut mereka).
Kapan bisa sukses? Oh, cepat atau lambat, jauh atau dekat, dua ribu. Yakin deh aku akan ke sana. Tapi mungkin tidak sendiri. Bersama anak dan istri. Amin.
Ah, tadi katanya cukup sampe sini? Kok lanjut lagi? Inkonsisten ih.. Gimana dapat Istiqomah mau mendekat kalo begitu terus?
Lho, justru itu... Sini, tak kasih tau. Udah tau kan kalo isi dunia ini diciptakan berpasangan? Ya kan? Nah, yakin deh bahwa si Istiqomah itu akan mendekat ke aku. Kenapa? Ya karena inkonsistensianku tadi.
Ah, nggak jelas deh.
Begini, begini. Tau kan apa pasangan siang?
Malam.
OK, tau kan pasangan pagi?
Sore.
Sip, tau kan pasangan atas?
Bawah.
Nice.. Nah sekarang, tau kan apa arti bahasa Indonesianya Istiqomah?
Konsisten
Yak, betul. Konsisten. Terus, apa pasangan konsisten?
Ya inkonsisten.
Tuh... Jodoh kan?!
Emangnya udah pasti jodoh?
Errrr... wAllohu a'lam..
Belakangan ini hidup rasanya terlalu datar.
Ini lagi. Itu lagi.
Variasinya mungkin cuma berita duka dari seorang teman lama yang kehilangan suaminya dalam kecelakaan. Dia sendiri sekarang sedang dalam ruang ICU. Sebenarnya bukan temanku yang kecelakaan yang mengabarkan, tapi teman si temanku yang kecelakaan itu tadi, yang juga temenku. Ribet? Ya itulah. Temanku pokoknya.
Hari-hari isinya rapat, rapat, dan rapat. Pagi, agak siang, siang. Sorenya enggak. Kue, kue, dan kue. Alhamdulillah.
Sampe kosan, tidur. Ngimpi, sering nggak jelas ngimpi apa. Tau-tau bangun. Laper, haus, gerah. Minum seteguk dua teguk. Bengong bentar. Ke kamar mandi. Cukup, sampe sini aja.
Yah, apapun itu, tetap aja aku begini. Wage-slave yang berada dalam kasta terendah piramida kaum Yahudi (menurut mereka).
Kapan bisa sukses? Oh, cepat atau lambat, jauh atau dekat, dua ribu. Yakin deh aku akan ke sana. Tapi mungkin tidak sendiri. Bersama anak dan istri. Amin.
Ah, tadi katanya cukup sampe sini? Kok lanjut lagi? Inkonsisten ih.. Gimana dapat Istiqomah mau mendekat kalo begitu terus?
Lho, justru itu... Sini, tak kasih tau. Udah tau kan kalo isi dunia ini diciptakan berpasangan? Ya kan? Nah, yakin deh bahwa si Istiqomah itu akan mendekat ke aku. Kenapa? Ya karena inkonsistensianku tadi.
Ah, nggak jelas deh.
Begini, begini. Tau kan apa pasangan siang?
Malam.
OK, tau kan pasangan pagi?
Sore.
Sip, tau kan pasangan atas?
Bawah.
Nice.. Nah sekarang, tau kan apa arti bahasa Indonesianya Istiqomah?
Konsisten
Yak, betul. Konsisten. Terus, apa pasangan konsisten?
Ya inkonsisten.
Tuh... Jodoh kan?!
Emangnya udah pasti jodoh?
Errrr... wAllohu a'lam..
Thursday, 8 September 2011
Kangen
Pernah kangen kan?
Sama orang? Oh, itu sih sering berujung galau. Ya sanalah.. Aku nggak mau ikut2an kalau galau.
Sekarang aku kangen melakukan sesuatu. Mengintip dari lubang sempit, mengatur hela nafas, menenangkan degup jantung yang bergejolak, mulai memainkan jari untuk meraba-raba, memutar-mutar, memaju-mundurkan apa yang tadinya digenggam tangan, terkadang dibarengi dengan menelan ludah, dan kemudian menekan sebuh tonjolan dengan lembut dan penuh perasaan di waktu yang tepat, dan diakhiri dengan mendengarkan sebuah suara yang pelan namun menggambarkan sebuah klimaks. Ah, memotret. Aku kangen motret!
Ah, pingin beli kamera gede lagi. Kali ini yang dua digitlah. Pengen nyobain gimana rasanya bawa kamera berat. *ditabokjenderal*
Pingin bikin gambar kaya gini lagi... :(
Ah, kapan ya motret lagi?
Sama orang? Oh, itu sih sering berujung galau. Ya sanalah.. Aku nggak mau ikut2an kalau galau.
Sekarang aku kangen melakukan sesuatu. Mengintip dari lubang sempit, mengatur hela nafas, menenangkan degup jantung yang bergejolak, mulai memainkan jari untuk meraba-raba, memutar-mutar, memaju-mundurkan apa yang tadinya digenggam tangan, terkadang dibarengi dengan menelan ludah, dan kemudian menekan sebuh tonjolan dengan lembut dan penuh perasaan di waktu yang tepat, dan diakhiri dengan mendengarkan sebuah suara yang pelan namun menggambarkan sebuah klimaks. Ah, memotret. Aku kangen motret!
Ah, pingin beli kamera gede lagi. Kali ini yang dua digitlah. Pengen nyobain gimana rasanya bawa kamera berat. *ditabokjenderal*
Pingin bikin gambar kaya gini lagi... :(
Ah, kapan ya motret lagi?
Wednesday, 8 June 2011
Monday, 14 March 2011
Moving On
Kalo kamu masih terus menoleh ke belakang, kamu nggak akan tau apa yang ada di depan.
Okelah, sesekali saja boleh. Buat koreksi saja, nggak usah terlalu larut dalam ingin itu. Aku tau kamu punya potensi, punya semangat tinggi, punya motivasi berlebih. Tapi kalo kamu masih yang itu-itu aja, ya kamu akan tetap seperti itu.
Lebih dari dua tahun bersama, bukan berarti akan jadi milikmu selamanya.
Tak ada yang kekal, tak ada yang abadi.
Hanya kepada-Nya tempat kita kembali dan mengabdi.
Okelah, sesekali saja boleh. Buat koreksi saja, nggak usah terlalu larut dalam ingin itu. Aku tau kamu punya potensi, punya semangat tinggi, punya motivasi berlebih. Tapi kalo kamu masih yang itu-itu aja, ya kamu akan tetap seperti itu.
Alloh tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, hingga mereka mengubahnya dengan tangan mereka sendiri.
Lebih dari dua tahun bersama, bukan berarti akan jadi milikmu selamanya.
Tak ada yang kekal, tak ada yang abadi.
Hanya kepada-Nya tempat kita kembali dan mengabdi.
Wednesday, 2 March 2011
Harusnya Bukan di Blog
Seringkali kita terjebak dalam romantisme masa lalu.
Indah memang kalau dikenang.
Tapi apa iya kita mau terjebak terus?
*sudahlah PSSI. Juara Piala Kemerdekaan itu nggak ada artinya. Menangnya juga kan karena ngancem Libya kan? Om Nurdin yang beradab, monggo turun sendiri. Sebelum diturunin paksa dan menjadi malu. Yah, itu pun kalo masih punya.*
Indah memang kalau dikenang.
Tapi apa iya kita mau terjebak terus?
*sudahlah PSSI. Juara Piala Kemerdekaan itu nggak ada artinya. Menangnya juga kan karena ngancem Libya kan? Om Nurdin yang beradab, monggo turun sendiri. Sebelum diturunin paksa dan menjadi malu. Yah, itu pun kalo masih punya.*
Friday, 14 January 2011
Pilihan
Tak mampu aku berkata banyak. Entah apa yang membuatku begini.
Tapi, kalau katamu aku harus bahagia, aku akan bahagia. Aku yang memilihnya.
Tapi, kalau katamu aku harus bahagia, aku akan bahagia. Aku yang memilihnya.
Thursday, 6 January 2011
Ingin Kubersuara
Aku memilih menjadi diriku.
Dengan segala prinsip dan citaku.
Aku tak mau menjadi orang lain, meskipun aku mampu.
Lebih bahagia aku di sini, menyapa dengan senyumku.
Lebih senang aku di sini, menulis kata-kata dengan jemariku.
Aku tak mau lari, kendati keadaan memaksaku.
Lebih baik aku di sini, menyaksikan riang celoteh makhluk-Nya.
Lebih mudah aku di sini, ketimbang harus sembunyi karena takut kecewa.
Aku tak mau tergesa, walau ada keinginan untuk itu.
Lebih bermanfaat aku di sini, mengisi waktu dengan karyaku sembari menunggu.
Lebih afdol aku di sini, menemani orang-orang tersayangku tersenyum berhasil.
Aku tak mau.
Inilah aku,
Jika ingin tau.
Semoga tak ada lagi kesilapan.
Kepada Tuhanku aku menyembah dan kepada-Nya aku memohon pertolongan.
Katon Bagaskara - Dengan Logika.
Dengan segala prinsip dan citaku.
Aku tak mau menjadi orang lain, meskipun aku mampu.
Lebih bahagia aku di sini, menyapa dengan senyumku.
Lebih senang aku di sini, menulis kata-kata dengan jemariku.
Aku tak mau lari, kendati keadaan memaksaku.
Lebih baik aku di sini, menyaksikan riang celoteh makhluk-Nya.
Lebih mudah aku di sini, ketimbang harus sembunyi karena takut kecewa.
Aku tak mau tergesa, walau ada keinginan untuk itu.
Lebih bermanfaat aku di sini, mengisi waktu dengan karyaku sembari menunggu.
Lebih afdol aku di sini, menemani orang-orang tersayangku tersenyum berhasil.
Aku tak mau.
Inilah aku,
Jika ingin tau.
Semoga tak ada lagi kesilapan.
Kepada Tuhanku aku menyembah dan kepada-Nya aku memohon pertolongan.
Katon Bagaskara - Dengan Logika.